---
karena dirimu adalah sahabat saya Azizah.
---
"Ramai orang-orang dari luar kota sekolah di sini juga Azizah, semakin banyak lah sainganmu, lebih giat lagi belajar!"
"Baik Bapak, saya akan berusaha."
Siang hari yang panas sekali, Azizah merindukan bola daging yang dicampur kuah dan kawannya es serut, sedap bagi dia memakan hidangan lezat bersama Bapak tercintanya.
"Anak perempuan manis disana, Teman engkau bukan Nasrudin?"
"Saya tidak mengenalinya, tetapi sepertinya anaknya baik."
"Pendiam ya? manis sekali wajahnya, elok dipandang."
"Eleh,, diam kau, dia hitam lah, saya tidak suka."
"Dasar anak muda! dia tidak Hitam!"
Bisik-bisik dari dua lelaki bersaudara ini terdengar sedikit oleh Azizah, malu dia menundukkan wajahnya dengan murung, tidak suka dia dibicarakan orang.
---
"Wahai Azizah! bila besok datang berkunjunglah ke Rumah saya! akan saya tunjukkan sepeda baru saya."
"Baik Gelis, saya akan izin pada Ibu terlebih dahulu."
---
"Hai Azizah, Badanmu ini tinggi sekali, sudah pasti engkau pandai memandu sepeda. bolehlah kau pandu saya agar bisa memandu sepeda saya sendiri
"Saya belum pernah memandu sepeda, saya tidak bisa gelis."
"coba sajalah dulu, mari-mari!"
Azizah menapaki pedal sepeda, dan mencoba mengayuh, jelas saja, sekali berlatih Azizah langsung pandai memandu sepeda.
"Mari Gelis saya ajarkan memandu sepeda, agar engkau bisa memandu sendiri."
"Tidak ada guna saya bisa memandu sepeda, selama ada Azizah saya akan duduk dibelakang engkau setiap hari menuju sekolah, dan menuju Rumah."
"Tidak baik Gelis, ada baiknya engkau berusaha."
"Diam kawanku!, maka begini, kau akan berkunjung kerumah saya setiap hari untuk pergi sekolah."
"Baiklah Gelis."
---
Sekolah mulai berlangsung pukul delapan tepat pagi. Hari-hari pun sudah berlalu Azizah selalu berkunjung ke rumah Gelis untuk Menjemputnya sekolah. sampai-sampai semua dapat melihat bahwa di dalam hati Azizah ada sedikit kejenuhan, akan tetapi dia tidak menampakkannya sedikit pun. Apa pun itu Azizah menyayangi kawannya.
---
Hari Senin, jam tujuh lewat lima belas menit, Azizah sudah berada di beranda Rumah Gelis. Menunggu kawannya yang sudah sering terlambat seperti ini. Dari seberang Jalan, anak muda yang bernama Nasrudin itu sedang berjalan, tak sengaja dia melihat Azizah yang sedang berdiri menunggu,.
"Hai anak hitam. Menunggu siapa engkau sendirian? akan terlambat bila tidak segera berangkat."
"Saya akan berangkat secepatnya."
"Apa ini beranda Rumah tempat engkau tinggal anak hitam? Rupanya anak hitam ini keturunan orang berpunya."
"Tidak, ini milik Uwak Dijah, bila engkau masih mau berbicara dengan saya, engkau lah yang akan terlambat menuju tempat upacara."
"Dasar anak hitam menyebalkan. hahahahaha !"
---
"Gelis, cepatlah saya mohon, kita akan terlambat lagi."
"Diam kawanku, bisakah engkau bersabar sedikit menunggu saya."
"Ayo cepat-cepat."
---
Tong-teng tong -teng!
bel berbunyi terdengar sampai telinga Azizah, namun mereka berdua masih di seberang jalan, nasi sudah menjadi bubur, lagi-lagi mereka terlambat. semua anak yang terlambat di hukum di beranda Sekolah. Kebetulan hari ini hanya Azizah dan Gelis lah yang terlambat, makin menjadi-jadi guru marah besar.
"Ke tiga kali! apa yang kalian lakukan dimalam hari, sampai terlambat seperti ini? tidak tidur? bermain? bermimpi? anak sekolah itu hidupnya harus disiplin! malu walau otak pintar tapi akhlaknya tidak baik! mengerti Azizah!"
"Saya mengerti ibu."
"Dan satu anak perempuan ini juga mengapa terlambat lagi, kalian sudah ke tiga kali terlambat bersama!"
"karena saya, berangkat bersama Azizah Ibu."
Dari pintu kelas terlihat wajah yang sedang memandang kearah Beranda Sekolah, rupanya Anak muda bernama Nasrudin itu mulai mengejek Azizah lagi.
"Hai teman saya, Lihatlah anak hitam di sana ternyata tidak disiplin anaknya, terlambat dia, tidak malu kah dia, bahwa dia telah memalukan dirinya sendiri, tidak sadarkah dia, ahahaha, eh tetapi, siapa anak putih sebelahnya itu? Cantik sekali."
"Janganlah engkau menghina anak perempuan itu, manis bila dipandang, yang sebelahnya itu kawannya, berkenalan lah, jangan hanya di balik pintu kelas saja memandang."
---
"Kenapa engkau mengatakan seperti itu Gelis, sesungguhnya saya selalu datang lebih awal, kau lah penyebab keterlambatan ini."
"Memang kenyataannya begitu kawan, saya tidak berbohong berbicara seperti tadi pada ibu Guru."
"Gelis lebih baik engkau belajarlah memandu sepeda, saya akan mengajarimu. bagaimana bila tidak ada saya nanti, tidak baik Gelis bila bergantung pada kawan "
"Sudah makan sajalah makananmu, biarkan saya yang membayar nanti, agar hilang marah mu pada saya."
"Saya tidak marah padamu Gelis. Mengapa saya harus berbuat ini terhadap mu?"
"Karena engkau adalah sahabat saya Azizah. Sudah-sudah, makan-makan."
"Hai anak cantik, bolehkah kita berkenalan?"
terdengar suara yang membuat Gelis terkaget, rupanya ada anak muda didepan dia.
"Akang siapa ya? apakah saya orang yang dipanggil tadi?"
"Perkenalkanlah nama Akang , Nasrudin, rupawan bukan namanya? seperti orangnya."
Pipi Gelis memerah, bibir merahnya tersenyum, matanya memutar keatas menahan malu.
"Nama saya Gelis akang."
"Cantik sekali, seperti namanya, wahai Gelis. ternyata dirimu adalah seorang kawan dari anak hitam ini."
"Perkenalkan kawan saya Azizah namanya."
"Azizah, cantik namamu, tak akan kupanggil dirimu si anak hitam lagi, maafkan saya, itu semua kesalahanmu jarena tidak bagi tau namamu Azizah, hahaha."
---
Beberapa hari berlalu, sejak Nasrudin mengenal Gelis, Azizah sudah jarang diminta untuk berkunjung ke rumah Gelis, kini Gelis dirundung asmara hatinya, penuh bunga dan surat di biliknya, kini Gelis mulai mencampakkan Azizah, terlena dia dengan Rayuan anak muda kampong sebelah si Nasrudin itu. Namun kini dia sedikit senang, karena tidak usah takut terlambat lagi setiap upacara sekolah, kini pemandu sepeda Gelis adalah Nasrudin.
---
"Hai Azizah, berkunjunglah ke Rumahku sore nanti, aku membutuhkan dirimu kawan."
Sudah lama Gelis tidak meminta Azizah untuk berkunjung, seperti biasa Azizah tersenyum, dirinya senang akan mengunjungi Rumah Uwak Dijah.
---
"Kamu butuh saya untuk apa Gelis?"
"Boleh kah ku pinta kau mengantarkan saya kerumah Akang Nasrudin Azizah?"
"Untuk apa kau mau kesana? janganlah, tidak baik kita pergi jauh ke kampong sebelah."
"Diam Azizah, cepatlah tolong aku, kau adalah sahabat saya kan Azizah, saya ingin mengantarkan hadiah ini untuk beliau."
---
Ataukah seperti Nakula bila menghunuskan pedang
Tajam dan cepat seperti jika engkau memandang
apa bila hati sudah tertipu rayuwan nan rupawan
tidak dipungkiri ia lupa terhadap kawan
Komentar
Posting Komentar